Perlembagaan UMNO

Blog List UMNO - 22 BLOG

Blog List Parti Keadilan Rakyat

http://1.bp.blogspot.com/-zjJ2GnwCIug/TtZZunD6qSI/AAAAAAAAAVk/q1bWTzwQHto/s142/Partai_Keadilan_Rakyat_logo_1.jpg

Blog List DAP

http://3.bp.blogspot.com/-iCPusw-ZyaI/TtZY53tPYNI/AAAAAAAAAVY/j-R_KaTh1UI/s112/bendera%2B-%2BCopy.jpg

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

JOM

JOM

Nak Tumpang Duduk-duduk di Sini Boleh???

Nak Tumpang Duduk-duduk di Sini Boleh???
Powered by Blogger.

Blog List Barisan Nasional dan Pro Barisan Nasional

Blog List Barisan Nasional dan Pro Barisan Nasional

293 blogs (Show All)

Sunday, 15 June 2014

Sedapnya Mengata, Dah Ganti? Cerminlah Diri!


PENGERTIAN DAN KEUTAMAAN RAMADHAN

Ramadhan ertinya bulan imtihan atau bulan ujian. Bulan ramadhan juga disebut bulan puasa kerana pada bulan ramadhan itu diwajibkan berpuasa sebulan ramadhan. Bulan ramadhan ialah bulan beribadah, bulan yang disebut dalam al-quran. Allah memilih bulan ramadhan dari bulan-bulan yang dua belas dan menjadikannya bulan yang utama. Allah memilih ramadhan untuk melimpahkan nikmat besar-Nya kepada para hambanya dengan menurunkan Al-quran.

Firman Allah SWT:

Ertinya : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan sembilan permulaan. Al-quran sebagai petunjuk bagi manusia dan bermacam-macam keterangan yang merupakan petunjuk, antara yang benar dan yang batil.” (Al-Baqarah : 185)

PENGERTIAN PUASA 

Puasa merupakan terjemah dari shoum (bahasa Arab) yang bererti menahan diri dari sesuatu. 
Menurut istilah syaraq pula puasa ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa
dimulai dari terbit fajar (subuh) sampai terbenam matahari (maghrib).

TARIKH BERPUASA BAGI UMAT ISLAM DI MALAYSIA
Umat Islam di Malaysia dijangka dapat menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan tahun ini (2014) pada 29 Jun.

Makluman tentang perkara ini adalah berdasarkan rujukan terhadap tarikh-tarikh penting dalam Islam untuk tahun 2014 /1435-1436 H bagi negara Malaysia.

KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN

Bulan ramadhan adalah bulan yang memiliki kesucian dan keistimewaan yang banyak. di antara keistimewaan- keistimewaan bulan ramadhan ialah :

1- Bulan yang terpilih untuk melakukan ibadah puasa sebagai tanda kesyukuran kepada Allah atas nikmat-Nya. Firman Allah SWT:

Ertinya : “Wahai orang-orang yang beriman telah difardhukan puasa atas kamu sebagai mana telah difardhukan atas umat-umat sebelum kamu, mudah-mudahan kamu (dengan perantaraan puasa itu) memperoleh taqwa.” (Al-Bakarah : 183)

2- Bulan yang telah dipilih oleh Allah SWT diadakan suatu malan yang sangat tinggi nilainya, iaitu “Malam Lailatul Qadar”

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud : “Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan ramadhan bulan yang penuh berkat. Allah elah menfardhukan atas kamu berpuasa didalamnya. Dibuka didalamnya segala pintu syurga, dikunci didalamnya segala pintu neraka, dan dibelenggu didalamnya segala syaitan. Didalamnya ada satu malan yang lebih baik dari seribu bulan (malam lailatul qadar). Barangsiapa tiada diberikan kebajikan malam itu, maka sesungguhnya tidak diberikan kebajikan kepadanya.” (Riwayat Ahmad, An Nasa’I dan Al Baihaqi dan Abu Hurairah)

3- Bulan yang dipilih untuk sembahyang terawih dimalamnya. Sembahyang terawih adalah sembahyang sunat yang hanya ada di bulan ramadhan. Sepanjang malam bulan ramadhan disunatkan mengerjakan sembahyang terawih secara berjemaah.

4- Bulan yang dipilih untuk kita memperbanyakkan amal ibadah, seperti membaca al-quran, membanyakkan sedekah, sembahyang sunat dan sebagainya.

5- Bulan yang berlakunya kemenangan dipihak Rasulullah SAW menawan Kota Makkah. Disaat itu berakhirlah penyembahan Berhala disisi Kaabah dan Makkah menjadi suci sebagaimana yang Allah SWT kehendaki.

6- Berlakunya Nuzul Al-quran pada 17 ramadhan yang disambut setiap tahun sebagai memperingati kesempurnaan al-quran. Diturunkan kepada Rasulullah SAW.

7- Dipelihara daripada dosa.

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud : “Sembahyang lima waktu, jumaat ke jumaat, ramadhan ke ramadhan menutupi dosa-dosa yang dilakukan diantara, asal sahaja dijauhi segala dosa besar.” (Riwayat Muslim dan Abu Hurairah)

8- Dibuka pintu syurga, ditutup pintu neraka. Syaitan dibelenggu. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud, “Pada suatu hari, aku berada disisi Uqbah bin Farqad sedang dia menceritakan tentang hal ramadhan, maka datanglah kepada kami seorang lelaki dari sahabat Rasul.

Setelah orang itu dilihat oleh Uqbah, dia pun merasa takut lalu berdiam diri. Maka orang itu menceritakan tentang hal ramadhan, katanya: “Saya mendengar Rasulullah SAW berkata : “Didalam bulan ramadhan dikunci segala pintu neraka, dibuka segala pintu syurga dan dibelenggu segala syaitan.”

Berkata Nabi lagi, “Seorang Malaikat berseru, “Wahai segela orang yang menghendaki kebajikan bergembiralah kamu dan wahai orang yang menghentikan kejahatan tahanlah diri kamu. “Malaikat terus-menerus berseru, sehingga habis bulan ramadhan.” Riwayat Ahmad dan Nasa’i

9- Mendapat perhatian, keutamaan dan ganjaran dari Allah SWT;

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud : “Rasulullah SAW bersabda, Telah diberikan kepada umatku dibulan ramadhan lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seseorang nabi sebelumku :

a) Dipermulaan bulan ramadhan Allah melihat kepada umatku, barangsiapa Allah lihat kepadanya, nescaya tidak diazabnya selamanya.

b) Bau mulut mereka diwaktu petang hari lebih wangi disisi Allah dari bau kasturi.

c) Para Malaikat memohon ampunan untuk mereka disetiap hari dan malam.

d) Allah menyuruh kepada syurganya serta berkata kepadanya, “Bersiaplah kamu dan berhiaslah kamu untuk hamba-hamba- Ku. Mereka hampir beristirehat dari kepayahan dunia, menuju ke negeri-Ku dan kemuliaan-Ku.

e) Pada akhir malam bulan ramadhan, Allah mengampuni semua dosa mereka. Seorang lelaki dari Sahabat bertanya : “Apa itu Lailatul Qadar ya Rasulullah?” nabi menjawab : “Apakah engkau tidak melihat kepada pekerja-pekerja yang bekerja. Apabila mereka telah selesai dari pekerjaan mereka, nescaya disempurnakanlah upah-upah mereka.” (Riwayat Ahmad, Al Bazzar, Al Baihaqi dari Jabir)

10- Sejarah berlakunya perang Badar Al Qubra. Kemenangan pihak Islam menjadi penentu sejarah kegemilangan Islam.

11- Sejarah berlakunya penaklukan Kota Makkah oleh Rasulullah dan tamatnya agama berhala. Bulan yang berlakunya kemenangan dipihak Rasulullah SAW menawan Kota Makkah. Disaat itu berakhirlah penyembahan berhala disisi kaabah dan Makkah menjadi suci sebagaimana yang Allah SWT kehendaki.

12- Setiap solat terawih mempunyai kelebihannya yang tersendiri. Bulan yang dipilih untuk solat terawih pada malamnya. Solat terawih adalah sembahyang sunat yang hanya ada dibulan ramadhan. Sepanjang malam dibulan ramadhan disunatkan mengerjakan solat terawih secara berjemaah.

13- Hanya dibulan ini dituntut sebanyak-banyak ibadah berbanding dibulan-bulan yang lain. Bulan yang dipilih untuk kita membanyakkan amal ibadah seperti membaca al quran, membanyakkan solat sunat dan sebagainya. Bulan ini segala doa dan apa-apa yang diminta insyallah dimakbulkan Tuhan.

14- Para syaitan dirantai atau dibelenggu moga dengan itu maksiat berkurangan.

Pada malam permulaan ramadhan nabi bersabda : “Pada permulaan malam ramadhan, para syaitan dan jin yang jahat dibelenggu serta pintu-pintu neraka dikunci, tidak ada satu pun yang terbuka. Pintu-pintu syurga dibuka dan tidak ada satu pun yang dikunci. Pada setiap malam ada yang memanggil : “Hai orang-orang yang mendambakan kebajikan menghadaplah, dan hai orang-orang yang mendambakan keburukan, menyingkirlah. Allah pada setiap malamnya akan membahaskan ramai orang dari neraka.”

Nyata sekali terlalu banyak keistimewaan dan kebajikan atau kebaikan dibulan ramadhan. Jadi tidak hairanlah para Sahabat dan Salafussoleh begitu merindukan saat-saat di bulan ramadhan.

DALIL-DALIL NAQLI TENTANG KEWAJIPAN BERPUASA DAN KEISTIMEWAAN RAMADAN

Dalil-dalil tentang kewajiban puasa Ramadhan sangatlah banyak dalam nash-nash Al-Qur`an dan Sunnah. Di antaranya adalah firman Allah Ta’âla, 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka, barang siapa di antara kalian sakit atau berada dalam perjalanan (lalu berbuka), (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ia tinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Wajib bagi orang-­orang yang berat menjalankannya, (jika mereka tidak berpuasa), membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan dengan kerelaan hati, itulah yang lebih baik baginya. Berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-­penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Oleh karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia ber­puasa pada bulan itu, dan barangsiapa yang sakit atau berada dalam perjalanan (lalu berbuka), (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ia tinggal­kan itu pada hari-hari yang lain. Allah meng­hendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak meng­hendaki kesukaran bagi kalian. Hendaklah kalian mencukupkan bilangan (bulan) itu dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberi­kan kepada kalian supaya kalian bersyukur.” [Al-Baqarah: 183-185]

Dalam hadits Abdullah bin Umar riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa puasa adalah salah satu rukun Islam yang agung dan mulia,

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima (perkara, pondasi): Syahadat Lâ Ilâha Illallâh wa Anna Muhammadan ‘Abduhu wa Rasûluhu, mendirikan shalat, me­ngeluarkan zakat, berhaji ke Rumah Allah, dan berpuasa Ramadhan.” 

Juga dalam hadits Thalhah bin Ubaidullah radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, ketika seorang A’raby bertanya kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tentang Islam, beliau bersabda,

خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِى الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ . فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهُنَّ قَالَ : لاَ. إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ وَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ . فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهُ فَقَالَ : لاَ. إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ . وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهَا قَالَ : لاَ. إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ . قَالَ فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ وَاللَّهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلاَ أَنْقُصُ مِنْهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ .

“Solat lima waktu (diwajibkan) dalam sehari dan semalam.” Maka, ia berkata, “Apakah ada kewajiban lain terhadapku?” Beliau menjawab, “Tidak ada, kecuali hanya ibadah sunnah. Juga puasa Ramadhan.” Maka, ia berkata, “Apakah ada kewajiban lain terhadapku?” Beliau menjawab, “Tidak ada, kecuali hanya ibadah sunnah,” dan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menyebutkan (kewajiban) zakat terhadapnya. Maka, ia berkata, ‘Apakah ada kewajiban lain terhadapku?’ Beliau menjawab, ‘Tidak ada, kecuali hanya ibadah sunnah.” Kemudian, orang tersebut pergi seraya berkata, “Demi Allah, saya tidak akan menambah di atas hal ini dan tidak akan menguranginya.’ Maka, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ia telah beruntung apabila jujur.’.”

Selain itu, hadits yang semakna dengan ini diriwayatkan pula oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari hadits Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, dan diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Jâbir bin Abdillah radhiyallâhu ‘anhumâ.

Selanjutnya, dalil lain terdapat dalam hadits Umar bin Khaththab radhiyallâhu ‘anhu riwayat Muslim ,dan hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, tentang kisah Jibril yang masyhur ketika beliau bertanya kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tentang Islam, Iman, Ihsan, dan tanda-tanda hari kiamat. Ketika ditanya tentang Islam, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِىَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلاً.

“Islam adalah bahwa engkau bersaksi bahwa tiada yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah, engkau menegak­kan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan, serta berhaji ke rumah (Allah) bila engkau sanggup menempuh jalan untuk itu.”
Berdasarkan dalil-dalil di atas, para ulama bersepakat bahwa siapapun yang mengingkari kewajiban puasa dianggap kafir, keluar dari Islam, dan dianggap telah mengingkari suatu perkara, yang kewajibannya telah dimaklumi secara darurat dalam syariat Islam.

Seluruh dalil di atas menunjukkan keuta­maan puasa yang sangat besar dan menunjukkan bahwa betapa agung nikmat dan rahmat Allah bagi umat Islam.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ dan Rasul-Nya telah menjelaskan berbagai macam keutamaan puasa secara umum dan keutamaan puasa Ramadhan se­cara khusus. Agar kita dapat bersegera dalam hal menggapai rahmat Allah dan bergembira terhadap karunia dan nikmat-Nya, berikut ini, kami menyebutkan beberapa keutamaan puasa. Di antaranya adalah:

Pertama, ampunan dan pahala yang sangat besar bagi orang yang berpuasa.

Allah Jalla Tsanâ`uhu menyebutkan sederet orang-­orang yang beramal shalih, yang di antara mereka adalah laki-laki dan perempuan yang berpuasa, kemudian menyatakan pahala untuk mereka dalam firman-Nya,
أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
 
“…Allah telah menyediakan, untuk mereka, ampunan dan pahala yang besar.” [Al-Ahzâb: 35]

Kedua, puasa adalah tameng terhadap api neraka.

Dalam riwayat Al-Bukhâry dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَسْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّيْ امْرُؤٌ صَائِمٌ

“… dan puasa adalah tameng. Bila salah seorang dari kalian berada pada hari puasa, janganlah ia berbuat sia-sia dan janganlah ia banyak mendebat. Kalau orang lain mencercanya atau memusuhinya, hendaknya ia berkata, ‘Saya sedang berpuasa.’.”

Juga dalam hadits Jâbir, ‘Utsman bin Abil ‘Âsh, dan Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu riwayat Imam Ahmad dan selainnya, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ

“Puasa merupakan perisai terhadap neraka, seperti perisai salah seorang dari kalian pada peperangan.”

Ketiga, puasa adalah pemutus syahwat.

Dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, hendaklah ia menikah karena hal tersebut lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang belum mampu, hendaknya ia berpuasa karena sesungguhnya (puasa itu) adalah pemutus syahwatnya.”

Keempat, orang yang berpuasa mendapat ganjaran khusus di sisi Allah.

Hal tersebut karana puasa merupakan bagian kesabaran, sementara sabar terbagi tiga: sabar dalam hal menjalan­kan ketaatan, sabar dalam hal meninggalkan larangan, dan sabar dalam hal menerima ketentuan Allah. Orang yang berpuasa telah melakukan tiga jenis ke­sabaran ini seluruhnya, bahwa ia sabar dalam hal men­jalankan ketaatan yang diperintah dalam pelaksanaan puasa, sabar dalam hal meninggalkan segala hal yang dilarang dan diharamkan dalam pelaksanaan puasa, serta sabar dalam hal menjalani kepedihan terhadap lapar, haus, dan kelema­han pada tubuh. Karena puasa merupakan bagian kesabaran, wajar jika orang yang berpuasa mendapatkan pahala khusus yang tidak terhingga sebagaimana orang yang sabar mendapat pahala seperti itu. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ ber­firman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
 
“Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabar­lah yang pahala mereka dicukupkan tanpa batas.” [Az-Zumar: 10]

Kelima, orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan.

Keenam, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau wangian kasturi.
Tiga keutamaan yang disebut terakhir termaktub dalam hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرَ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِيْ وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan Anak Adam, kebaikannya dilipat­gandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa. Sesung­guhnya, (amalan) itu adalah (khusus) bagi-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya karena (orang yang ber­puasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.’ Bagi orang yang berpuasa, ada dua kegembiraan: kegembiraan ketika dia berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia berjumpa dengan Rabb-nya. Sesung­guhnya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi.” (Lafazh hadits adalah milik Imam Muslim)

Ketujuh, puasa sehari di jalan Allah menjauhkan wajah seseorang dari neraka sejauh perjalanan selama tujuh puluh tahun.

Dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Tidak seorang hamba pun yang berpuasa sehari di jalan Allah, kecuali, karena (amalannya pada) hari itu, Allah akan menjauh­kan wajahnya dari neraka (sejauh perjalanan) selama tujuh puluh tahun.”

Kelapan, pintu khusus di surga bagi orang-orang yang berpuasa.

Dalam hadits Sahl bin Sa’ad As-Sâ’idy radhiyallâhu ‘anhumâ riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَدْخُلُ مَعَهُمْ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَدْخُلُونَ مِنْهُ فَإِذَا دَخَلَ آخِرُهُمْ أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya, di surga, ada pintu yang dinamakan Ar­-Rayyân. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melaluinya pada hari kiamat. Tidak ada seorang pun yang melewatinya, kecuali mereka. Dikatakan, ‘Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Lalu mereka memasukinya. Jika (orang) terakhir dari mereka telah masuk, (pintu) itupun dikunci sehingga tidak ada seorang pun yang melaluinya.”

Kesembilan, puasa termasuk kaffarah (penggugur) dosa hamba.

Dalam hadits Hadzaifah Ibnul Yamân radhiyallâhu ‘anhumâ riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِيْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Fitnah seseorang terhadap keluarga, harta, jiwa, anak, dan tetangganya dapat ditebus dengan puasa, shalat, shadaqah, serta amar ma’ruf dan nahi mungkar.” (Konteks hadits adalah milik Imam Muslim)

Juga dalam hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu riwayat Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Shalat lima waktu, (dari) Jum’at ke Jum’at, dan (dari) Ramadhan ke Ramadhan, adalah penggugur dosa (seseorang pada masa) di antara waktu tersebut sepanjang ia menjauhi dosa besar.”

Bahkan, puasa menjadi bagian kaffarah pada beberapa perkara seperti pelanggaran sumpah[1], zhihâr [2], sebagian amalan haji[3], pembunuhan Ahludz Dzimmah ‘orang yang berada di bawah perjanjian’ tanpa sengaja[4], dan pembunuhan hewan buruan saat ihram[5].

Kesepuluh, puasa termasuk amalan yang mengakibatkan seseorang dimasukkan ke dalam surga.
Dalam haditsnya riwayat Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, An-Nasâ`i, Ibnu Hibban, dan lain-lain, Abu Umâmah radhiyallâhu ‘anhu berkata kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمُرْنِيْ بِعَمَلٍ أَدْخُلُ بِهِ الْجَنَّةَ . قَالَ عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ مِثْلَ لَهُ.

“Wahai Rasulullah, perintahlah saya untuk mengerjakan suatu amalan, yang dengannya, saya dimasukkan ke dalam surga. Beliau bersabda, ‘Berpuasalah, karena (puasa) itu tak ada bandingannya.’.”

Kesebelas, puasa memberi syafa’at pada hari kiamat.

Dalam hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallâhu ‘anhumâ, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِيْ فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِيْ فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ.

“Puasa dan Al-Qur`an akan memberi syafa’at untuk seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Rabb-ku, saya telah melarangnya terhadap maka­nan dan syahwat pada siang hari, maka izinkanlah saya untuk memberi syafa’at baginya.’ Al-Qur`an berkata, ‘Saya telah menghalanginya dari tidur malam, maka izinkanlah saya untuk memberi syafa’at baginya.’ (Beliau) bersabda, ‘Maka, keduanya men­dapat izin untuk mensyafa’ati (hamba) tersebut.’.” (HR. Ahmad, Muhammad bin Nash Al-Marwazy, Al-Hâkim, dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Tamâmul Minnah hal. 394-395)

Kedua belas, pada Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, serta syaithan dibelenggu.

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Jika Ramadhan telah tiba, pintu-pintu surgadibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan syaithan-syaithan dibelenggu.”

Ketiga belas, orang yang berpuasa pada Ramadhan, karena keimanan dan hal mengharap pahala, dosa-dosanya diampuni.

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena keimanan dan hal mengharap pahola, dosa­-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

SEGERAKAN QADHA PUASA SEBELUM RAMADAN MENJELMA

Puasa Ramadan adalah kewajipan kepada semua yang beragama Islam. Meninggalkannya dengan sengaja diharamkan dan berdosa. Bagi yang telah meninggalkannya sama ada dengan sengaja atau terpaksa kerana sebab tertentu, maka Islam mewajibkan menggantikan semua puasa ditinggalkan itu pada tahun berkenaan selagi Ramadan seterusnya belum tiba.

Oleh itu, bersegera menggantikan puasa amat digalakkan kerana ia lebih dekat dengan ketakwaan. Namun, tidak dinafikan terdapat fenomena hari ini yang mana umat Islam lebih gemar menggantikan puasa pada bulan Syaaban.

Perbuatan sedemikian sebenarnya dibenarkan dan tidak salah di sisi Islam selagi mana Ramadan seterusnya belum tiba. Jika Ramadan seterusnya telah tiba, maka mereka yang berbuat demikian berdosa kerana sengaja melewat-lewatkan qada yang sepatutnya dipercepatkan.

Akibat daripada kelewatan itu, wajib mengganti semua puasa yang tidak sempat pada bulan selepas Ramadan sedia ada tamat. Tidak cukup sekadar itu, mereka yang gagal mengqada puasa turut diwajibkan membayar fidyah dengan kadar satu cupak beras (900 gram) untuk satu hari puasa yang ditinggalkan pada tahun itu.

Ini bermakna, jika seseorang itu mempunyai baki puasa sebanyak tiga hari lagi, maka dia wajib berpuasa tiga hari dan tiga cupak beras untuk tahun berkenaan. Jika dia masih gagal menggantikan tiga hari puasa pada tahun itu, maka fidyahnya akan berganda daripada tiga cupak kepada enam cupak untuk tiga hari, manakala puasa gantinya tiga hari itu kekal dan tidak berganda.

Disunting dari pelbagai sumber. 

No comments:

Post a Comment

JOM TAMBAH ILMU

Blog-blog Sosialis, Pro Sosialis, Pro Syiah,ABU,ABCD,ABU (Asal Bukan Ustaz ) UMNO dan Lain-lain

Blog list 2 (241)

SUMBER DAN BERITA TERKINI

Catatan Terkini dan Terdahulu Di dalam Blog Ini

Kandungan Blog

Blog List 1 - 31

Blog Politik Dan Separa Politik (82)

PERLEMBAGAAN PAS

Blog List PAS -198 Blogs (Show All)

Jom Klik Iklan

Bilangan Login

Jumlah Tetamu Yang Sudi Berkunjung


widgeo.net

Search This Blog

FB

There was an error in this gadget

Yang Telah Berlalu Biarkan Berlalu....

Yang Telah Berlalu Biarkan Berlalu....
JOM HIJAUKAN BUMI TUHAN

SEMAKAN DAFTAR SPR